Fullmetal Alchemist: Antara Fiksi dan Permenungan Filosofis

Beberapa bulan ini banyak sekali anime yang bagus yang tayang di berbagai platform. Sebut saja Kaiju No. 7, Bleach, atau Dan Da Dan. Tapi entah kenapa, hasrat untuk menonton serial kartun Jepang itu selalu kandas. Malah, saya lebih tertarik menonton kembali anime-anime yang telah lalu. Mungkin ini terkesan naif. Tapi anime yang dibuat tahun 2000-an adalah serial kartun yang paling paripurna, meski bisa diperdebatkan. Tapi, coba pikirkan. Betapa anime hari ini nyaris begitu-begitu saja, tak ada genre lain selain isekai. Walaupun ada juga beberapa yang bagus. Ya, mungkin saya harus mengambil cuti dan menyepi di lereng gunung Kailash dan menonton anime-anime baru serupa maratron.

Salah satu anime yang paling saya sukai adalah Fullmetal Alchemist: Brotherhood (FAB). Bagi saya, anime ini tidak hanya menyajikan kisah penuh aksi, komedi yang segar, dan drama yang menggugah, tetapi juga menyelipkan perenungan filosofis tentang kehidupan, keakuan, dan batas antara ilmu dan keajaiban. Dengan latar dunia yang sarat alkimia, FAB menggali pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang tubuh, jiwa, dan ruh melalui cara yang jarang ditemukan di media populer.

FAB terdiri dari 64-episode. Tayangan pembuka dimulai 5 April 2009 dan berakhir pada 4 Juli 2010. Serial kartun ini diproduksi oleh studio Bones dan disutradarai oleh Yasuhiro Irie. Fullmetal Alchemist: Brotherhood diadaptasi dari manga karya Hiromu Arakawa. FAB mengikuti perjalanan dua bersaudara, Edward dan Alphonse Elric, yang mencoba mengembalikan tubuh mereka setelah upaya transmutasi manusia yang gagal—terutama Alphonse yang kehilangan tubuhnya.

Di dalam baju zirah kosong itu, Alphonse Elric masih berkata, “Aku ada.” Tetapi bagaimana mungkin? Tubuhnya telah lenyap, tersedot oleh hukum alkimia yang tak kenal ampun serupa lubang hitam, namun ia tetap bisa berpikir, merasa, bahkan bermimpi. Maka, apakah “aku” hanya soal tubuh, ataukah ada yang lain? Rene Descartes, filsuf yang mengukuhkan dualisme jiwa dan raga dalam pemikiran Barat, barangkali akan tersenyum kecil melihat bagaimana Fullmetal Alchemist: Brotherhood mempermainkan konsepnya. Tubuh hanyalah wadah, sesuatu yang bisa dilebur, dihancurkan, atau ditinggalkan, sementara kesadaran tetap hidup.

Akan tetapi, apakah keakuan hanya sebatas kesadaran berpikir? Dalam kajian modern, teori embodied cognition menolak dualisme Cartesian dengan menekankan bahwa kesadaran dan pemikiran tidak dapat dipisahkan dari tubuh. Jika kesadaran Alphonse tetap bertahan meskipun tanpa tubuh, maka pertanyaan berikutnya adalah: apakah tubuh hanyalah sekadar wadah yang bisa ditinggalkan begitu saja? Merleau-Ponty pernah berargumen bahwa tubuh adalah bagian integral dari pengalaman manusia, bukan sekadar objek pasif. Dalam konteks ini, eksistensi Alphonse menjadi paradoks: apakah ia masih manusia jika tubuhnya telah hilang?

Pertanyaan selanjutnya adalah di mana ruh? Apakah ruh sama dengan jiwa? Ataukah ia sesuatu yang berbeda? Jika kita mengikuti lanskap pemikiran mistik dan esoterik Timur, ruh bukan sekadar energi yang berpikir atau merasa. Ia adalah napas ilahi, sesuatu yang berakar pada yang transenden. Dalam Islam, misalnya, konsep ruh bukan sekadar kesadaran berpikir, melainkan napas ilahi yang menjadi sumber kehidupan. Dalam tradisi Hindu dan Buddhisme, kesadaran dianggap sebagai bagian dari atman atau citta, yang merupakan aspek transenden dari eksistensi manusia. Dalam perspektif ini, Alphonse bukan sekadar mesin berpikir yang kehilangan tubuhnya, tetapi sebuah entitas yang beroperasi di antara batas materi dan spiritualitas—sebuah eksistensi yang menggantung di antara keberadaan dan ketiadaan.

Alkimia, ilmu kuno yang menginspirasi FAB, juga memainkan perannya sendiri dalam sejarah pencarian manusia terhadap hakikat keberadaan. Secara historis, alkimia memiliki hubungan erat dengan filsafat dan spiritualitas. Dalam peradaban Barat, alkimia berkembang dalam konteks Aristotelianisme dan kemudian bercampur dengan filsafat Hermetik serta pemikiran esoterik abad pertengahan. Sementara di Timur, alkimia sering kali beririsan dengan tradisi mistik seperti Taoisme di Cina dan pemikiran sufistik dalam Islam.

Seorang alchemist konon mampu mengubah batu menjadi emas, menemukan eliksir kehidupan, bahkan menyibak tirai antara dunia fisik dan metafisik. Tapi sebelum para alchemist Eropa berusaha meracik philosopher’s stone, kisah-kisah dalam sejarah para nabi telah lebih dulu mencatat mukjizat yang tak jauh berbeda. Musa memukulkan tongkatnya ke batu, dan air pun mengalir. Daud, sang raja sekaligus penyair, konon dapat melembutkan besi hingga menjadi baju zirah. Dan seorang anak dari Nazareth, yang lahir tanpa ayah, mampu mengubah air menjadi anggur. Apakah mereka alchemist? Ataukah alkimia hanyalah upaya manusia untuk memahami hukum-hukum sakral yang hanya dianugerahkan kepada yang terpilih?

Jika kita melangkah lebih jauh ke Timur, kita menemukan para awatara Wishnu, yang turun ke dunia dengan kekuatan yang sering kali melampaui batas-batas fisika. Krishna menampakkan alam semesta dalam tubuhnya, Rama menaklukkan raja iblis, dan bahkan di dunia animasi modern, seorang bocah botak bernama Aang dapat mengendalikan empat elemen dengan keselarasan batinnya. Apakah mereka para alchemist dalam bentuk lain? Ataukah alkimia, dalam bentuknya yang paling esensial, adalah cara manusia mencoba memahami hukum-hukum semesta yang tak kasatmata?

Dunia Fullmetal Alchemist mungkin hanya fiksi, tetapi pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan telah menggema sejak lama: tentang tubuh dan jiwa, tentang keakuan, tentang rahasia di balik materi. Dalam setiap baju zirah kosong dan dalam setiap batu yang dipecah, ada pertanyaan tentang hakikat kita sendiri. Apakah kita hanya tubuh, atau lebih dari itu? Dan jika kita lebih dari itu, maka apa yang sejatinya menjadikan kita “ada”?

Bila Anda tertarik menonton anime ini, Anda bisa mengunduhnya di berbagai platform anime secara daring. Dan jangan sekali-kali menonton versi live action-nya. Jelek. Sayang, waktu Anda terbuang percuma.

 

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Lingga Agung

Lingga Agung

Fans berat Biohazard dan Homicide—Behemoth juga. Seorang wibu casual yang percaya bahwa kesenian era renaissance adalah yang paling paripurna. Sambil menunggu zombie apocalypse terjadi, mengisi waktu dengan mengajar di Telkom University, Bandung.