Buku dan Ingatan Kolektif

Buku yang terbakar. Ilustrasi foto: Canva.

Saat kita melangkah masuk ke dalam sebuah perpustakaan, pasti mendapati benda yang terdiri dari tumpukan kertas bertuliskan aksara, dijilid dan diberi sampul. Benda itu dinamakan buku. Melihat hal itu, awalnya saya berpikir bahwa buku tak lebih dari sekadar benda mati yang di dalamnya berisi dongeng, cerita fiktif, atau kumpulan teori-teori yang disajikan oleh penulisnya.

Asumsi itu kemudian mulai diuji dalam benak setelah saya membaca buku bertajuk “Penghancuran Buku-Buku dari Masa ke Masa”. Buku ini ditulis oleh Fernando Baez, pustakawan asal Venezuela. Pertanyaan besar saya ajukan: jika benar buku hanya sebuah benda mati, mengapa sepanjang peradaban manusia dari era kuno hingga modern, ada begitu banyak tiran, penguasa, dan rezim yang repot-repot menghancurkan, memburu, memberangus, bahkan membakar benda bernama buku itu? Apakah buku benar-benar benda mati, atau justru ia hidup dan menghidupi?

Buku, Bangsa, dan Ingatan Kolektif

Untuk menjawab pertanyaan mengenai daya hidup sebuah buku, saya meminjam gagasan Benedict Anderson dalam karya klasiknya, Imagined CommunitiesKiranya, gagasan Ben terkait bangsa menjadi relevan untuk menunjukkan hidupnya sebuah buku. Ia menyoroti sesuatu yang menarik terkait bangsa yang kita bela mati-matian. Baginya bangsa adalah sebuah “komunitas imajiner”. Dengan kata lain, komunitas imajiner merujuk pada berbagai éntitas penduduk pada suatu negara. Di situ, boleh jadi, para penduduk tersebut tak pernah saling kenal dan juga tak pernah bertemu. Akan tetapi, para penduduk itu kini bisa merasakan satu sama lain, satu nasib, dan memiliki ikatan persaudaraan yang erat hingga merasa memiliki identitas yang sama sebagai bangsa. Sebut saja, misalnya, bangsa Indonesia. Bagaimana mungkin jutaan kepala yang tak saling mengenal dapat mengidentifikasikan dirinya sebagai sebuah bangsa?

Salah satu jawabannya ada pada apa yang disebut Anderson sebagai print-capitalism (kapitalisme media cetak) seperti buku atau sejenisnya. Bayangkan ketika orang-orang dari berbagai pelosok daerah membaca cerita, berita, gagasan dan narasi yang sama terkait nasib mereka yang sama-sama dijajah oleh pihak lain. Saya membayangkan dalam diri mereka mungkin tumbuh kepedulian, empati, hingga merasakan emosi yang sama setelah terbangun kesadaran atas apa yang mereka baca.

Proses membaca massal inilah yang pelan-pelan merajut imajinasi kolektif. Dari imajinasi itu, lahirlah ingatan bersama. Lewat lembaran-lembaran teks yang sederhana, buku berhasil menjadi rahim yang melahirkan kesadaran nasionalisme dan memicu pergerakan besar untuk keinginan mengubah nasib bersama.

Hidup Sebagai Ancaman bagi Kekuasaan 

Dalam dimensi yang lain, buku tak sekadar terlihat sebagai benda yang membawa berkah bagi orang-orang yang tertindas, melainkan seringkali menjadi benda yang menakutkan bagi kaum penindas. Hal tersebut tercermin dalam aksi penghancuran dan pemusnahan buku pada sejarah peradaban manusia dari masa ke masa. Fernando Baez mencatat dengan apik fenomena penghancuran buku dalam karya fenomenalnya, Penghancuran Buku-Buku dari Masa ke Masa. 

Melalui bukunya, Báez seolah mengingatkan saya bahwa sepanjang sejarah peradaban manusia, aksi membakar atau memusnahkan buku bukan hanya tindakan vandalisme tanpa arah. Bukan juga luapan amarah buta terhadap tumpukan kertas atau tinta semata. Akan tetapi, penghancuran buku merupakan keputusan politik yang dilakukan dengan sangat sadar dan terencana. Para tiran, diktator, dan penjajah sejak era kuno hingga modern yang suka mengincar buku seperti menyiratkan pesan bahwa cara menghancurkan masyarakat yang ampuh bukan dengan melenyapkan fisiknya saja, melainkan menghancurkan pula ingatan dan imajinasi kolektifnya. Báez menyebut fenomena kejam ini sebagai memoricide atau pembunuhan ingatan.

Beberapa temuan Baez seperti dibakarnya perpustakaan Alexandria, rezim Nazi yang mengumpulkan dan membakar ribuan buku yang dianggap menyimpang di jalanan pada tahun 1933, atau ketika Perpustakaan Nasional di Sarajevo dihujani bom pada tahun 1990-an, mengindikasikan ada ketakutan yang luar biasa dari para penguasa. Mereka takut pada isi kepala masyarakat yang merdeka karena buku. Mereka takut pada alternatif kebenaran dan kisah perlawanan yang tersimpan di balik sampul buku.

Saya melihat aksi pemusnahan buku semacam ini, sebenarnya, merupakan ungkapan jujur sekaligus pengecut dari para penghancur buku. Mereka jujur bahwa buku bukan sekadar benda mati dan pasif. Dengan kata lain, rezim tak perlu repot-repot mengerahkan tentara, senjata, dan api hanya untuk melawan tumpukan kertas, jika kertas itu tidak memiliki nyawa yang sanggup melawan dan meruntuhkan kekuasaan mereka melalui orang yang membacanya. Maka, sejatinya ia hidup dalam kepala manusia dan menghidupinya.

Hidup dalam Kepala, Nyata dalam Tindakan Manusia 

Melihat buku dari kacamata Anderson dan Báez menyadarkan saya bahwa buku adalah keberkahan sekaligus ancaman. Di satu sisi, ia punya kekuatan kemanusiaan yang luar biasa untuk menyatukan pikiran dan hati orang-orang yang terpisah satu sama lain, membangun empati, dan menyalakan api pergerakan. Di sisi lain, karena kekuatannya yang mampu mengusik dan mengancam kenyamanan penguasa lewat manusia yang membacanya, ia selalu berada di garis depan untuk disensor, diburu, bahkan dimusnahkan.

Dari sinilah saya sadar sejatinya buku bukan sekadar benda mati untuk pajangan rak ruang tamu atau kumpulan teori akademik saja. Setiap buku yang berhasil lolos dari penyensoran, atau tak tersentuh sambaran api yang hidup dalam ingatan generasi ke generasi menjadi sebuah kemenangan kecil yang membuatnya terus hidup. Buku tidak benar-benar benda mati. Ia selalu hidup menjadi ide dalam kepala manusia, dihangatkan dalam ruang-ruang diskusi, dan menjadi nyata dalam tindakan manusia untuk melawan segala penindasan.

 

Editor: Hafidz Azhar

 

Picture of Fazlan Larqi

Fazlan Larqi

Mantan santri yang sedang menunggu kuliah