“Berhenti memandang krisis ekologis sebagai ‘kemalangan yang tak terhindarkan.’ Itu adalah narasi kelas penguasa untuk menutupi jejak dosanya. Marx membongkarnya.”
Sebuah caption di Threads menghentikan jempol dari melanjutkan scrolling.
“Marx membongkarnya.” Benarkah?
Dalam Capital, Volume I, Karl Marx memang menulis bahwa produksi kapitalis “mengganggu interaksi metabolik antara manusia dan bumi… menghalangi kembalinya unsur-unsur tanah… sehingga merusak syarat bagi kesuburan yang berkelanjutan.” Ia juga menyebut bahwa kemajuan pertanian kapitalis adalah kemajuan dalam seni merampok, bukan hanya pekerja, tetapi juga tanah. Bahkan dalam Grundrisse, ia menulis bahwa manusia hidup dari alam, bahwa alam adalah “tubuhnya”, dan ia harus terus berdialog dengannya jika tidak ingin mati.
Jadi, ya, Marx melihat ada yang tidak beres dalam relasi manusia dan alam.
Tapi mengatakan bahwa ia telah “membongkar krisis ekologi” seperti yang kita pahami hari ini adalah cerita lain.
Di tangan pemikir eco-Marxis seperti John Bellamy Foster dan Paul Burkett, gagasan Marx dikembangkan menjadi konsep metabolic rift, keretakan dalam hubungan manusia dan alam. Dari sinilah muncul klaim bahwa Marx sebenarnya sudah lebih dulu menjelaskan krisis ekologis global.
Masalahnya, pembacaan seperti ini datang belakangan—bersifat post-factum. Marx menulis di abad ke-19, ketika krisis ekologis global belum menjadi kenyataan historis, bahkan ketika industrialisasi baru mulai tumbuh. Lebih dari itu, pembacaan ini sering mengabaikan sisi lain dari Marx, yaitu keyakinannya pada perkembangan kekuatan produksi. Industrialisasi, bagi Marx, bukan musuh. Ia adalah tahap yang perlu, bahkan bagian dari jalan menuju pembebasan.
Di sinilah paradoks itu muncul. Marx mengkritik dampak ekologis kapitalisme, tetapi sekaligus menerima—bahkan mendorong—proses historis yang mempercepatnya.
Paradoks itu tidak berhenti di atas kertas
Ketika Marxisme menjadi kebijakan negara, hasilnya tidak otomatis lebih ramah lingkungan. Di Uni Soviet, proyek irigasi raksasa membuat Laut Aral menyusut hingga menjadi salah satu bencana ekologis terbesar abad ke-20, sementara industrialisasi berat meninggalkan jejak polusi yang luas. Di Republik Rakyat Tiongkok era Mao Zedong, program Great Leap Forward mendorong produksi baja secara masif, memicu deforestasi, dan memperlihatkan bagaimana alam diposisikan sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan.
Pengalaman ini memberi pelajaran sederhana: menghapus kapitalisme tidak otomatis menyelesaikan krisis ekologis. Keduanya, kapitalisme dan sosialisme abad ke-20, sama-sama lahir dari satu horizon modernisme yang menempatkan alam sebagai objek produksi.
Karena itu, terasa berlebihan jika beberapa kutipan dari Marx langsung dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa ia telah membongkar sebab krisis ekologi. Apalagi jika hal itu dilakukan tanpa memperhatikan konteks historisnya, atau mengabaikan ketegangan dalam pemikirannya sendiri. Ada kesan bahwa kita tidak sedang membaca Marx, melainkan putting words in Marx’s mouth, kalau bukan sekadar cocoklogi.
Masalahnya bukan pada Marx, tapi pada cara kita memperlakukannya. Dalam banyak kasus, Marx diposisikan seolah sebagai nabi dalam segala hal.
Hal yang sama juga terjadi pada tradisi. Dalam konteks Sunda, pembagian fungsi leuweung sering disebut sebagai contoh kearifan ekologis. Dan memang, ada kecanggihan di sana. Tapi kecenderungan untuk menempatkan tradisi di atas sejarah, seolah selalu harmonis, atau menafsirkan konsep seperti pamali dan angker/keramat secara post-factum sebagai bentuk kesadaran lingkungan atau kesadaran apa pun yang melampaui zamannya, memang problematik. Di titik ini, pola yang sama mulai terlihat.
Berdialog dengan sejarah
Mengambil satu gagasan dari konteksnya, lalu mengangkatnya menjadi kebenaran universal.
Mengabaikan sejarahnya, lalu memberinya makna baru yang terasa cocok hari ini.
Dan akhirnya, memperlakukannya seolah ia selalu benar sejak awal.
Padahal, baik Marx, tradisi, maupun modernitas adalah produk sejarah. Masing-masing lahir dari konteks, menjawab persoalan tertentu, dan membawa keterbatasannya sendiri.
Karena itu, yang kita butuhkan bukan memilih mana yang paling benar, tapi bagaimana memperlakukannya.
Pendekatan yang lebih sehat adalah mendialogkan semuanya dengan sejarah—menempatkan setiap gagasan pada konteksnya, menguji batasnya, dan membiarkannya berjumpa dengan yang lain tanpa harus saling menelan.
Ini juga berarti berhati-hati agar tidak menyakralkan yang sebenarnya profan, sekaligus tidak memaksa yang sakral untuk menjawab seluruh persoalan teknis. Dalam tradisi Islam, ada hadis yang cukup populer ketika Nabi Muhammad menanggapi keluhan seorang sahabat tentang gagalnya praktik penyerbukan kurma setelah mengikuti saran beliau. Nabi kemudian menyatakan bahwa “kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian” (antum a‘lamu bi umūri dunyākum). Sebuah pengingat sederhana bahwa tidak semua hal harus dijawab dari satu sumber yang sama.
Pada akhirnya, kita sering tersesat bukan karena kekurangan jawaban, tapi karena terlalu cepat merasa sudah menemukannya. Mungkin, jalan untuk kembali memahami tidak selalu dengan mencari gagasan baru, tapi dengan mengembalikan yang sudah ada ke tempatnya:
ke dalam sejarah—agar ia bisa berdialog, bukan mendominasi.



