Pameran Tercerabut: Sebuah Arena Pergulatan Identitas

Dua karya seniman Vincent Rumahloine. Foto: Wibisono T. Guna Putra

Kamu orang mana? Pertanyaan sederhana dengan jawaban, yang bagi saya, tidak pernah sederhana. Saya sering kali menanyakan hal yang sama pada beberapa orang yang baru saya temui, didorong oleh rasa ingin tahu tentang bagaimana mereka melabeli identitasnya. Jawabannya sering kali mudah, yakni dengan menyebut etnisitas atau suku bangsa yang mereka percaya sudah menubuh dan harus diterima sebagai sebuah keniscayaan. Persoalan identitas kemudian menjelma menjadi suatu hal yang begitu kompleks: tentang bagaimana kita dan lingkungan sekitar mendefinisikan siapa diri kita.

 

“Apakah Anda Setuju dengan Rezim yang Baru?” karya Vincent Rumahloine. Foto: Wibisono T. Guna Putra

 

Kegundahan serupa coba dipertanyakan ulang dan divisualisasikan oleh Vincent Rumahloine dalam pamerannya yang bertajuk “Tercerabut”. Sebagai seniman keturunan Maluku yang lahir dan tumbuh di Kota Bandung, Vincent melihat identitas melalui kacamata yang cair. Dalam obrolan singkat dan penuh jeda malam itu, ia sedikit berkisah tentang bagaimana ia tumbuh di lingkungan budaya urban Bandung, yang acap kali mendefinisikan dirinya sebagai bagian dari budaya Sunda. Vincent mengingat masa kecilnya sebagai lian, karena dalam keseharian, ia merasa lingkungan sekitarnya “membedakan” dirinya. Pada titik itulah ia mulai mempertanyakan identitasnya. Bukan sekadar identitas yang menempel sebagai label di kartu tanda pengenal; lebih dari itu, persoalan ini kelak menjadi pijakan baginya dalam menegosiasikan ulang persilangan identitas yang ia alami. Hal ini sekaligus membantunya untuk terus melakukan pembacaan perihal identitas yang terus-menerus ia definisikan ulang.

Memasuki lokasi pameran di bilangan Jl. Cibadak, tepatnya di Tjap Sahabat, Vincent merespons ruang yang baginya “menantang”. “Karena (kebiasaan) gue gak terlalu white cube kan? Gue pengennya yang di antara,” ucapnya, seolah meneguhkan tema identitas yang ia angkat. Di dalam ruang pamer, saya menjumpai tiga karya yang masing-masing membawa narasi spesifik. Vincent membaginya ke dalam tiga bagian yang mewakili dimensi dari tema identitas yang ia usung: politik, lingkungan, dan spiritual. Ia meletakkan pembagian ini sebagai wujud pengembaraannya, merangkum berbagai peristiwa, hasil pengamatan, dan perbincangan yang telah ia lakukan selama kurang lebih 10 tahun.

Di sisi kanan, fokus saya tertuju pada papan LED dengan teks bergerak di dalamnya. Papan tersebut memuat sebaris kalimat yang diputar berulang-ulang berbunyi, “Apakah Anda Setuju dengan Rezim yang Baru?”. Pertanyaan itu memaksa otak saya berpikir, apa yang sedang Vincent rujuk? Apalagi jika mengingat rentetan peristiwa yang mempertontonkan segregasi identitas dalam kurun belasan tahun terakhir. Meski sah-sah saja pikiran ini mencoba menghubung-hubungkan konteks, teks kuratorial memberikan “pagar” yang membantu pengunjung memahami titik tolak Vincent dalam memilih diksi tersebut. Vincent bertolak dari hasil wawancaranya dengan Bung Yono, seorang eksil yang ia temui di Praha. Sebuah pertanyaan dengan sekadar jawaban “ya” atau “tidak” itu nyatanya membawa konsekuensi besar pada kehidupan Bung Yono yang berpuluh-puluh tahun kemudian harus hidup di pengasingan. Sebaris pertanyaan yang bagi Vincent bukan sekadar tanya, melainkan sebuah instrumen politik yang dari jawabannya, identitas seseorang berpotensi untuk dicerabut.

 

“Arsip Antroposen”, Karya Vincent Rumahloine. Foto: Wibisono T. Guna Putra

 

Masuk lebih dalam, saya disajikan lukisan berukuran besar berjudul “Arsip Antroposen”. Lukisan itu nyaris menutupi keseluruhan tembok di belakangnya. Sekilas, gayanya mengingatkan pada Hindia Molek atau Mooi Indie, sebuah genre visual yang begitu akrab di mata masyarakat Indonesia. Namun, bagi saya, wacana visual yang ditampilkan Vincent justru terasa mengganggu. Sawah yang biasanya menjadi elemen dominan, disisakan hanya beberapa petak, berebut ruang dengan barisan pohon sawit. Hutan yang kerap menjadi simbol atas “liarnya” alam Hindia Timur, ditumbalkan demi pembukaan akses jalan dan lahan baru. Gunung yang lazimnya berdiri gagah dan agung sebagai satu-satunya latar, kini harus bersaing dengan kehadiran pencakar langit kontemporer dan pesatnya industrialisasi. Birunya sungai juga nihil; hanya lembah yang tampak gersang, seolah menggambarkan sisa-sisa aliran yang mengering. Karya ini seakan mempertontonkan manusia hari ini yang dihadapkan pada paradoks pilihan, sekaligus mempertanyakan secara kritis: apa yang menjadi keseharian di masa lalu versus realitas perubahan hari ini, yang mungkin tanpa disadari perlahan mencerabut identitas manusia di dalamnya? Ia juga menggugat sebuah pandangan—keindahan versi siapa lanskap ekologis kita hari ini?

 

“Kemasukan Kuda” Karya Vincent Rumahloine. Foto: Wibisono T. Guna Putra

 

Di ujung rangkaian pameran, Vincent mengeksplorasi medium anyaman bambu berbentuk kuda sebagai penanda tradisi. Melalui karya bertajuk “Kemasukan Kuda”, yang berakar dari persinggungannya dengan kesenian kuda lumping di Desa Wangunsari (didokumentasikan sejak 2023), ia menarik benang merah antara peristiwa kerasukan dan fenomena ‘tercerabut’. Baginya, kesurupan melampaui sekadar perpindahan entitas asing ke dalam raga manusia; peristiwa ini justru menandai tercerabutnya kesadaran sang subjek. Lebih jauh, karya ini mengartikulasikan bagaimana mistisisme beroperasi sebagai fenomena keseharian dalam budaya visual kita—sebuah narasi yang mengakar kuat dan tak terpisahkan dari denyut nadi masyarakat Indonesia. “Kemasukan Kuda” menjadi sebuah konklusi visual bahwa ketercerabutan tidak selalu mewujud dalam bentuk material. Sering kali ia hadir dalam rupa yang tak kasatmata: jiwa-jiwa yang ditarik paksa untuk mengisi kekosongan raga sebagai bentuk ruang yang lain, menegaskan bahwa tercerabut, pada esensinya, adalah juga persoalan spiritualitas.

 

Seniman Vincent Rumahloine. Foto: Wibisono T. Guna Putra
Seniman Vincent Rumahloine. Foto: Wibisono T. Guna Putra

 

Pada akhirnya, menelusuri ketiga narasi dalam pameran “Tercerabut” membawa saya kembali pada pertanyaan banal di awal tulisan: “Kamu orang mana?”. Melalui persilangan dimensi politik, lingkungan, dan spiritual, Vincent membongkar ilusi bahwa identitas adalah sesuatu yang ajek dan terberi. Pameran ini seolah menegaskan bahwa identitas tidak hanya dibentuk oleh apa yang tumbuh dan mengakar, melainkan juga oleh apa yang dipaksa lepas dan tercerabut. Keluar dari ruang pamer yang jauh dari kesan white cube tersebut, saya menyadari bahwa negosiasi atas siapa diri kita adalah sebuah proses yang tak pernah paripurna. “Tercerabut” kemudian menjadi sebuah cermin yang memantulkan realitas bahwa identitas bukanlah sebaris kata di kartu pengenal. Ia adalah ruang tarung antara ingatan dan lupa, antara tradisi dan modernitas, antara siapa kita dan mereka. Kita semua, pada tingkat tertentu, adalah subjek yang terus-menerus tercerabut, yang berupaya mencari pijakan baru di tengah realitas keseharian yang terus berubah.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Wibisono T. Guna Putra

Wibisono T. Guna Putra

Dosen Desain Komunikasi Visual, Telkom University