Bila kita bertandang ke Perguruan Tinggi pada hari Jumat, sayup-sayup terdengar murottal Al-Quran, adzan berkumandang, maka civitas akademika akan menghentikan segala aktivitas, segera bergegas menuju masjid kampus untuk melaksanakan shalat (Jumat, lima waktu) berjamaah.
Untuk di UGM (Masjid Sholahuddin), UI (Masjid Arif Rahman Hakim), IPB (Masjid Abu Dzar Al-Ghiffari, Masjid Al-Hurriyah), Unibraw (Masjid Raden Patah), ITS (Masjid Manarul Ilmi) ITB (Masjid Salman Ganesa, Masjid Al-Jabbar Jatinangor), Unpad (Masjid Al-Jihad Dipatiukur, Masjid Raya Jatinangor), UPI (Masjid Al-Furqon), UIN Sunan Gunung Djati Bandung (Masjid Ikomah), Telkom University (Masjid Syamsul Ulum), Universitas Widyatama (Masjid Al-Ma’mur), Unikom (Masjid Al-Barokah, Masjid Ihya Ulumuddin).
Padahal, galibnya masjid didirikan oleh (untuk) masyarakat sekitarnya. Ini yang dilakukan Nabi Muhammad saat membangun Masjid Nabawi di Madinah yang dilakukan oleh penduduk Madinah (Anshar) bersama penduduk dari Mekah (Muhajirin). Masjid berkembang bersama umat muslim di Madinah. Madinah tidak hanya menjadi penanda geografis, tetapi juga melahirkan periodisasi dan ketegori tersendiri dalam pembentukan ajaran agama Islam, periode Madaniyah yang berbeda dengan dengan periode Makiyah.
Ingat, perbedaan Islam dimulai dari masjid. Dalam tarikh (sejarah) Islam dijelaskan bahwa Nabi Muhammad mengawali proses membangun masyarakat dengan mendirikan masjid, misalnya masjid Nabawi yang dibangun ketika hijrah ke Madinah. Seperti pada masa Rasul, peran dan fungsi masjid juga penting dalam penyebaran Islam di banyak negara, termasuk di Indonesia.
Masjid kampus merupakan kombinasi antara dua elemen yang dianggap masyarakat umum berbeda, bahkan saling bertentangan, yaitu masjid sebagai representasi agama pada saat itu dan kampus sebagai representasi ilmu pengetahuan (sains). Agama adalah keyakinan dan Iman (faith), sementara sains adalah akal dan rasionalitas. Kedunya dipersepsi masyarakat sebagai entitas yang berbeda tadi dapat disandingkan di masjid Salman.
Mari kita bandingkan dengan jumlah masjid pada umumnya di wilayah Bandung yang mencapai 2.143 dan mushola 621 (Provinsi Jawa Barat dalam Angka 2020: 225).

Pelopor Masjid Kampus
Hasil penelitian Yon Machmudi menyebutkan masjid Salman merupakan masjid kampus pertama di Indonesia, berdiri pada 1964, memberi kontribusi besar pada perkembangan Islam di tanah air sejak tahun 1970-an hingga sekarang.
Berlokasi di lingkungan Insitut Teknologi Bandung (ITB), kiprah aktivis masjid Salman menjadi embrio bagi lahirnya gerakan Islam berbasis kampus di Indonesia, hingga ke negeri Jiran Malaysia melalui organisasi Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM). Model dakwah dan pengelolaan masjid Salman banyak menginspirasi munculnya gerakan Islam Kampus di berbagai perguruan tinggi lain di tanah air.
Masjid Salman ITB telah melahirkan banyak figur-figur penting dalam perkembangan Islam Indonesia dari dulu (Ahmad Noe’man, KH. EZ. Muttaqien, Rasyidi, Osman Raliby, Zainal Abidin Ahmad, Imaduddin Abdurrahim, A.M. Lutfi, Endang Saefudin Anshori, M. Noe’man, Yusuf Amir Feisal, Yudi Syarif Sumadilaga) hingga sekarang (Hatta Rajasa, M.S. Ka’ban, Dindin Hafifuddin, Mutammimul Ula, KH. Miftah Farid).
Dengan peranannya selama ini, keberadaan masjid Salman dapat dijadikan suatu potret untuk melihat dinamika perkembangan Islam dalam konteks nasional maupun tingkat lokal.
Budhiana Kartawijaya, Pengurus YPM Salman ITB menuliskan keinginan untuk mendirikan masjid di lingkungan kampus ITB sudah berkembang sejak tahun 1950-an. Saat itu, kebutuhan akan masjid banyak disuarakan baik oleh pegawai maupun mahasiswa ITB yang memiliki latar belakang keluarga santri. Mereka merasa bahwa kampus ITB yang mengajarkan sains dan teknologi mengabaikan kebutuhan mereka akan nilai-nilai spiritual, terutama Islam.
Dengan semakin bertambahnya jumlah mahasiswa dan pegawai yang berlatar belakang agama Islam di kampus ini, dorongan untuk mendirikan masjid semakin kuat. Namun pada tahap awal, keinginan itu mendapatkan penolakan dari pihak Rektorat yang saat itu dipimpin oleh Ir. Otong Kosasih dengan alasan bahwa pendirian masjid di lingkungan kampus akan memicu tuntutan yang sama dari kelompok mahasiswa yang beragama, selain agama Islam.
Penolakan itu tidak menyurutkan keinginan mahasiswa untuk memiliki masjid di lingkungan kampus. Tahun 1960 dibentuk sebuah panitia untuk pembangunan masjid. Mereka membawa rencana itu bertemu Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno yang juga alumni ITB. Gayung pun bersambut, bahkan Soekarno sendiri yang memilih nama Salman untuk masjid yang akan dibangun di lingkungan ITB. Nama Salman sendiri terinspirasi dari sosok sahabat Nabi yang menjadi arsitek dalam Perang Khandak (parit).
Pada tahun 1972 untuk pertama kalinya masjid Salman secara resmi digunakan, namun aktivitas di lingkungan masjid sendiri sudah berjalan jauh sebelumnya. Meskipun dikelola secara independen, tapi mayoritas dari pengurus Salman adalah dosen dan civitas akademika di ITB sendiri.
Masjid Salman terletak di bagian utara Kota Bandung. Dari segi arsitektur, masjid ini unik dan berbeda dengan masjid-masjid di Bandung. Masjid ini tidak pilar dan kubah. Bagian dinding dan lantai masjid ini menggunakan material kayu, sehingga menimbulkan kesan yang teduh. Pilihan untuk tidak menggunakan pilar dan kubah adalah gagasan dari arsitektur masjid, Ahmad Noe’man.
Menurutnya mendirikan masjid tidak mesti taklid (mengikuti tanpa mengetahui alasan dan maksudnya). Masjid Salman berupaya menyimbolkan Indonesia dalam banyak aspek, dan tidak menggunakan kubah sebagaimana bangunan masjid di Timur Tengah. Untuk menunjang kegiatan lain, di sekitar masjid didirikan beberapa perkantoran.
Dalam perkembangannya sekarang di area masjid terdapat kantor Yayasan Pembina Masjid Salman (YPM), asrama mahasiswa, klinik, perpustakaan, kantin, dan beberapa kantor tempat kegiatan jamaah dan Kharisma (Keluarga Remaja Islam Salman).
Pendirian masjid Salman saat itu sempat menjadi pembicaraan tingkat nasional karena ada penolakan pihak kampus untuk mendirikan masjid. Dalam kultur masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim menolak mendirikan masjid merupakan keputusan yang kontroversial sebab mendirikan masjid bagian dari pelaksanaan ajaran Islam.
Pendirian masjid Salman juga menjadi isu nasional karena menjadi masjid pertama yang didirikan dalam lingkungan kampus. Pada masa itu pendirian masjid di kampus merupakan hal yang tak biasa. Apalagi dalam kasus Salman, proses pendiriannya melibatkan Soekarno sebagai alumni ITB yang sekaligus dalam posisinya sebagai Presiden RI pada saat itu.
Pada masa-masa awalnya masjid Salman lebih banyak sebagai tempat melaksanakan ibadah bagi civitas akademika di lingkungan ITB. Seiring perkembangan dan semakin banyak jamaah di masjid ini, fungsi mulai berkembang dari sekedar tempat ibadah menjadi bagi berkumpulnya aktivis, tokoh pergerakan mahasiswa dan intelektual di sekitar Bandung dan tanah air.
Kehadiran masjid Salman menjadi penenda munculnya gerakan dakwah Islam baru yang dikenakan sebagai gerakan dakwah melalui masjid. Fenomena ini disebut baru karena lajimnya proses penyebaran dakwah Islam di tanah air lebih banyak berbasis pondok pesantren dengan kiai dan santri sebagai pelakunya.
Masjid Salman di kampus ITB melahirkan gerakan dakwah Islam melalui masjid kampus dengan mahasiswa dan civitas akademika sebagai aktivitasnya. Kehadiran Islam baru ini telah melahirkan berbagai lembaga dan model dakwah yang lebih modern bagi kalangan mahasiswa maupun masyarakat perkotaan. Apa yang terjadi di Salman dengan masjid kampusnya yang menginspirasi bermunculannya gerakan yang sama di berbagai kampus di tanah air.
Model dan peran dakwah yang dilaksanakan Salman menjadi daya tarik tersendiri yang mengandung banyak kalangan untuk belajar tentang model pengelolaan (manajerial) dan dakwah Islam yang berbasis pada masjid kampus. Gerakan dakwah di masjid Salman telah melahirkan sejumlah tokoh penting di Indonesia seperti Imaduddin Abdurrahim (Bang Imad), hingga elite politik, cendekiawan dan birokrat diantaranya Hatta Rajasa, Pramono Anung.
Hasil penelitian Rifki Rosyad menjelaskan terbentuknya masjid Salman sebagai gerakan dakwah kampus terkait dengan situasi politik yang terjadi pada masa Soeharto. Pada tahun 1970-an mahasiswa banyak melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru. Kritik ini berkaitan dengan masalah kebijakan pemerintah yang sentralistis, perilaku korupsi yang merajalela dan kemiskinan. Sikap oposisi mahasiswa semakin menguat yang ditunjukkan dalam berbagai demonstran. Puncak dari kekecewaan mahasiswa terjadi dengan meletusnya peristiwa 25 Januari 2974 (Peristiwa Malari).
Pada tahun 1978 terjadi demonstrasi mahasiswa yang bertujuan menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden. Demonstrasi ini mengakibatkan korban dari kalangan mahasiswa sehingga dikenal dengan sebutan “tragedi berdarah ITB”. Peristiwa ini menginspirasi lahirnya gerakan Golongan Putih (Golput) yang bertujuan menolak partisipasi politik mahasiswa dengan cara tidak memberikan suara pada Pemilihan Umum di masa pemerintahan Orde Baru (Orba) (Jimly Asshiddiqie, 2002: 19-24, Julian Millie dan Dede Syarif [editor],2015:143-149).
Ihwal Penamaan Salman
Siapa itu sahabat yang menggali parit pada saat Perang Khandaq?” tanya Presiden Soekarno sambil menoleh pada orang disampingnya, Saifuddin Zuhri, Menteri Agama RI. Pertanyaan itu refleks terlontar dari mulutnya. Sang Menteri yang juga pimpinan NU dengan sigap menjawab,”Salman.” Jawabannya bersambut sang Presiden, ”Nah itu, Masjid ini saya namakan Salman!”
Ada rasa haru di sana, di antara wajah-wajah Prof. TM Soelaiman, Achmad Noeman, Achmad Sadali, dan Ajat Sudrajat yang datang jauh-jauh dari Bandung.
Ahad pagi itu, kalender menunjukkan tahun 1963. Dalam ruang istana, usai santap pagi seakan semua bermula. Ketika Masjid di hadapan kampus ITB menjadi lakon. Lakon yang kini berkisah tentang terdapat masa ketika seorang laki-laki yang minta izin untuk Jumatan di tengah perkuliahan dianggap ganjil.
Terdapat masa ketika seorang laki-laki bersarung malah dibilang “Wah arab, nih.” Ada masanya celotehan “Eh kamu mau salat, titip salam ke Tuhan ya!” menjadi sesuatu yang lumrah. Masa-masa itu dialami betul oleh mahasiswa-mahasiswa muslim Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 60-an.
Budaya barat begitu kental di kalangan mahasiswanya. Aula Barat cukup sering dipakai oleh kegiatan berdansa-dansi. Bahkan, mahasiswa-mahasiswa muslim ITB yang masih “minat” untuk Salat Jumat pun harus bersusah payah berjalan kaki dari ITB untuk salat di Masjid Cihampelas.
Rektor ITB pada saat itu, Prof. Ir. O. Kosasih pun pada awalnya menolak rencana dibangunnya masjid di sekitar kompleks ITB. Alasannya: “Kalau orang Islam minta masjid, nanti orang komunis juga minta Lapangan Merah di ITB.”
Namun kepanitiaan yang terdiri dari Prof T.M. Soelaiman, Achmad Sadali, Imaduddin Abdulrachim, Mahmud Junus, dan lain-lain tidak lantas pasang sikap menyerah. Mereka menggalang dukungan kepada siapapun yang mereka anggap kompeten. Buah usaha mereka pun terwujud. Seorang dosen Planologi beragama Kristen, Drs. Woworuntu pun menyatakan dukungannya. Bahkan Prof. Roemond, seorang Belanda yang menjadi ketua Jurusan Arsitektur pun mendukung.
Akhirnya setelah melobi kesana-kemari, presiden saat itu, Ir. Soekarno memberikan restu akan dibentuknya Masjid Salman ITB. Rektor ITB pun terdorong pula untuk mengizinkan. Walhasil, tepat pada 5 Mei 1972, Masjid Salman ITB untuk pertama kalinya dapat dipakai untuk Salat Jumat.
Pada 27 Mei 1960, Shalat Jumat di Aula Barat ITB, Jumatan pertama di lingkungan kampus Indonesia; 28 Maret 1963, Akte Notaris No. 83 a.n Jajasan Pembina Masdjid ITB disahkan; 28 Mei 1964, Bung Karno memberi nama “Salman” dan menyutujui rancangan gambar masjid ini; 5 Mei 1972, Untuk petama kalinya Masjid Salman ITB dipakai shalat Jumat, dan diresmikan oleh Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Doddy Tisna Amidjaja (www.salmanitb.com dan www.itb.ac.id).
Tahun 1980-an, Salman adalah masjid kampus yang semarak dengan program-program dakwah yang menyentuh kebutuhan spiritual masyarakat perkotaan. Selain berfungsi sebagai masjid kampus, Salman menyusun program-programnya untuk memenuhi kebutuhan siraman keagamaan masyarakat di wilayah Bandung dan sekitarnya, dari anak-anak, remaja, pemuda, mahasiswa hingga ibu-ibu.
Untuk tingkat remaja dan pemuda dibentuk organisasi Keluarga Remaja Islam Salman (Karisma) yang diperuntukan bagi para pelajar SMA dan mahasiswa sebagai wadah aktivitas keislaman. Pada tahun 1989, anggotanya sudah mencapai 2.880 orang dengan 223 orang pengelola. (Moeflich Hasbullah, 2017:67-69)
M. Dawam Raharjo, menyampaikan masjid Salman memang telah menjadi suatu model dakwah tersendiri. Pasalnya, masjid yang sangat erat dengan kampus ITB itu merupakan masjid kampus pertama yang ada di Indonesia. Dakwah masjdi Salman bukna hanya sebatas kajian, akan tetapi berkembang di bidang lainnya.
Salah satunya dengan mendirikan badan penerbitan yang melahirkan buku-buku Islam bermutu. Model dakwah di masjid Salman ini menjadi contoh bagi kampus-kampus lain, seperti masjid Shalahuddin di UGM yang berhasil melahirkan Gerakan Jamaah Shalahuddin, masjid Raden Patah yang berhasil melahirkan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). (Jimly Asshiddiqie, 2002: 19-24).
Mudah-mudahan kehadiran masjid Salman ITB ini menegaskan diri sebagai oase masyarakat kota. Sejatinya masjid Salman ingin menjelma sebagai pelipur dahaga di tengah hiruk-pikuk perkotaan, terutama Kota Bandung nu heurin ku tangtung.
Editor: Ridwan Malik



