Narawas

 

 

Kalau dari segi bahasa, pantun Ciptagelar bisa disebut perantara antara bahasa pantun Baduy dan pantun Priangan

 

Membuka Struktur Cerita Pantun Sunda yang disusun Tini Kartini dan kawan-kawan, saya menemukan cerita Perenggong Jaya. Judul ini mengingatkan saya pada cerita Prenggong Jaya yang dilantunkan Ki Arsan di kediaman Kang Nedi tahun lalu. Tepatnya Mei tanggal 23, 2021, itulah kala pertama saya menyimak carita pantun.

Di buku itu cerita Perenggong Jaya diambil dari hasil dokumentasi Ajip Rosidi, merupakan salah satu dari 17 carita pantun yang berhasil Ajip rekam dan ia publikasikan (projek Ajip diadakan kurang lebih selama lima tahun 1969-1974, konon kaset hasil merekam dari projek ini raib dari perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, terduga ‘diambil’ orang Sunda juga. Murid Ajip, Mikihiro Moriyama pernah menanyakan rekaman itu pada ahli waris tersangka dan hasilnya nihil). Sayang saya belum menjumpai publikasi dari Perenggong Jaya ini. Memang setelah mendengar carita pantun Ki Arsan dan bekerjasama dengan Niduparas Erlang menyusuri pantun Sunda, saya jadi lebih giat mengumpulkan hal-ihwal carita pantun. Termasuk carita pantun yang didokumentasikan Ajip, dari 17 carita pantun itu tinggal Perenggong Jaya yang belum saya dapat. Bisa dikatakan beruntung, karena di buku Struktur Cerita Pantun Sunda ini ada ringkasan Perenggong Jaya. Baik Perenggong Jaya maupun Renggong Jaya keduanya dari pelosok selatan Sukabumi.

Saya harus berterimakasih pada Elva Yulia Safitri adik dari Abah Ugi, ketua adat Ciptagelar. Atau mungkin pada Mang Asep Salik dahulu, entah atas asbab apa di kolom komentar medsosnya kami bercakap tentang pantun, tapi yang penting ia mengatakan bahwa pernah mendengar pelantunan pantun di Ciptagelar. Mendengar Ciptagelar saya teringat Elva. Pada satu kesempatan Elva saya kontak, dan menanyakan kapan kiranya bisa mendengarkan cerita pantun, tentunya setelah bertanya apakah orang “ajam” seperti saya diperkenankan menyaksikan cerita yang selalu di dalam dan dibalut ritual itu.

Astungkara, tak jauh dari percakapan itu Elva memberi tahu, bahwa kakaknya Kang Nedi yang memiliki rumah baru di Bandung akan mengadakan selamatan dengan mengadakan pantun. Besoknya, saya ditanya Elva perihal pendarasan itu. Saya tak bisa menjawab apa-apa, blas saya tidak bisa menangkap apa yang didaras Ki Arsan. Hanya mampu berkilah, saya belum “diizinkan” untuk paham, kurang lebih seperti itu jawaban saya pada Elva.

Di rumah Kang Nedi saya rasa saya sampai agak terlambat, saya datang langsung menyantap congcot bersama Ki Arsan, tuan rumah, dan penyimak yang lain. Congcot adalah nasi dibentuk kerucut dari padi huma. Jika dibandingkan dengan di Kanekes, kata Ki Pantun Ayah Anirah, memang pantun itu tidak terlepas dari congcot, orang yang minta diajari pantun di awal pembelajaran harus membawa congcot, begitu juga di akhir. Dalam prosesi pantun di Kanekes pun sama, di akhir acara pendengar disuguhi congcot. Congcot juga menjadi kewajiban tuan rumah untuk diberikan kepada juru pantun selepas upacara, disamping pemberian lain. Kalau di Kanekes ketika juru pantun datang, pertama-tama ada percakapan antara juru basa dan juru pantun, diantaranya bertujuan memanggil “diri yang lain” dari si juru pantun. Perlu dicatat, sebelum “percakapan” ini juru pantun tidak diperkenankan untuk menyantap apapun dari tuan rumah, setelahnya biasanya diisi dengan mengobrol, makan-makan, menunggu waktu ritual mantun dimulai. Saya tidak tahu apakah Ki Arsan dan di Ciptagelar ada percakapan seperti ini juga atau tidak.

Selain congcot, kesamaan yang teramati dari ritual dalam pantun Ki Arsan dan Ayah Anirah adalah penggunaan panglay (zingiber cassumunar) ketika menyemburkan mantra. Antara Kanekes dan Kasepuh Ciptagelar saya kira memiliki banyak kesamaan. Misalnya pantun dan angklung memiliki kedudukan yang khusus, baik di Kanekes maupun di Ciptagelar pantun dan angklung bertalian dengan ritual, terutama ritual menanam padi. Oleh karena itu di Ciptagelar pantun dan angklung tidak termasuk Rorokan Tatabeuhan, institusi yang mengelola tetabuhan yang mengurus wayang golek, topeng, jipeng, gondang, debus, degung, dan dangdut. Angklung dikelola oleh Rorokan Jero, institusi inti di Kasepuhan Ciptagelar, dan pantun memiliki institusi khusus Rorokan Pantun. Berbeda dengan sudut pandang kebanyakan kita yang menganggap pantun dan angklung berderajat sama dengan pertunjukan yang lain.

Dari segi strukturpun pantun Kanekes dan pantun Ciptagelar memiliki persamaan, antara lain pantun tidak diawali dengan rajah seperti umumnya carita pantun di daerah lain terutama Priangan. Carita pantun di Kanekes dan Ciptagelar diawali dengan “kawih” nyanyian berisi bangbalikan (puisi yang memiliki cangkang dan isi seperti pantun Melayu, dengan sampiran dan isi tidak tetap dua baris, kebanyakan tiga bahkah lebih). Baru setelah senandung ini dilanjutkan dengan rajah atau pasaduan (senandung permohonan izin, maaf, dan perlindungan). Kalau dari segi bahasa, pantun Ciptagelar bisa disebut perantara antara bahasa pantun Baduy dan pantun Priangan.

Ada tiga cerita pantun yang Ajip rekam dari Ki Samid, selain Perenggong Jaya, Ajip juga merekam Radén Tanjung dan Badak Pamalang. Saya tidak tahu dalam Perenggong Jaya, dalam pengantar Radén Tanjung dan Badak Pamalang tak ada keterangan memuaskan tentang Ki Samid, cuman disebut tempat asalnya saja Cisolok, Palabuhan Ratu, Sukabumi. Akan sangat menarik jika Ki Samid berkaitan dengan institusi adat Kasepuhan Ciptagelar, mengingat Ciptagelar juga berlokasi di Kecamatan Cisolok, Sukabumi.

Belakangan saya mendapat potongan rekaman carita pantun Prenggong Jaya, Ki Arsan. Jadi saya dapat berasumsi baik Perenggong Jaya, Ki Samid maupun Prenggong Jaya, Ki Arsan, keduanya merupakan lakon yang sama. Tak seperti sebelumnya setelah berinteraksi dengan Ki Pantun Ayah Anirah, saya merasa sudah “diizinkan” untuk melawat ke dunia pantun walau mungkin belum sepenuhnya, tapi saya merasa Ayah Anirah sudah membukakan “hal lain” dari diri saya.–

Samodana ku na sastra rocék,
kurang wuwuhan leuwih lwangan,
Sang anurat Hady Prastya.

*Narawas dari kata tarawas, bermakna: 1. rintis; merintis bakal ladang, berupa kegiatan penentuan luas huma sambil membersihkan untuk batas yang akan dikerjakan. 2. tawas, campuran bahan celup agar warna terikat pada kain.

 

HADY PRASTYA | TUKANG KAYU

image: Sharm Murugiah

Picture of Redaksi

Redaksi