Rumah Baca Buku Sunda: Berangkat dari Kekurangan Akses Bacaan Buku Sunda

Sejumlah koleksi buku di Rumah Baca Buku Sunda. (Foto: Muhamad Rendi Firmansyah).

Di sebuah rumah sederhana di Jalan Margapuri I No. 22, Cijaura, Buah Batu, Kota Bandung, seorang pria paruh baya tampak duduk santai dengan balutan kaus putih dan celana bahan panjang. Ia adalah Mamat Sasmita (74), pendiri Rumah Baca Buku Sunda. Dari wajah dan sikapnya terpancar semangat yang kini kian langka di tengah maraknya gawai dan menurunnya minat baca. Mamat masih bersedia menjaga ruang literasi dengan beragam buku yang ditampilkan, baik buku sejarah, pemikiran, sastra dan budaya Sunda.

Rumah Baca Buku Sunda baru saja berpindah lokasi dari alamat sebelumnya di Jalan Margawangi VII No. 5, yang masih berada di kawasan Cijaura. Meskipun proses pemindahan belum sepenuhnya rampung, beberapa koleksi buku bahkan tetap tersimpan di tempat lama dan rumah baca tetap berjalan seperti biasa. Di tengah suasana rumah yang belum seluruhnya tertata, pengunjung disambut hangat oleh sang pemilik. Mamat dengan tulus membuka ruang ini untuk siapa pun yang ingin belajar dan mengenal lebih dalam budaya Sunda.

Didirikan sekitar bulan Februari awal tahun 2004, Rumah Baca Buku Sunda bermula dari koleksi pribadi Mamat Sasmita. Selain sebagai penggagas rumah baca, Mamat merupakan seorang penulis dan pemerhati sastra Sunda. Kala itu, beliau menyadari bahwa banyak orang yang tertarik membaca koleksi bukunya, terutama buku-buku sastra berbahasa Sunda.

Awalna mah, Bapa téh ngan ukur nyimpen koleksi buku, tapi loba nu ninggali, loba nu resepeun. Bapak téh tibatan teu pararuguh, mending dibuka wé aksésna (Awalnya Bapak hanya menyimpan koleksi buku, namun banyak yang lihat dan menggemari. Daripada Bapak gelisah, jadi dibuka saja aksesnya)” kenangnya.

Sebagai rumah baca yang melekat dengan nama Sunda, Mamat malah memperbanyak koleksi bacaan di luar buku-buku kesundaan. Di beberapa lemarinya, terpampang beragam buku dengan genre-genre tertentu. Sebut saja antara lain buku teori sastra, kebudayaan, hingga jurnal.

“Awalnya mah fokus di karya sastra. Tapi makin ke sini, rasanya perlu nambah teori sastra, budaya, termasuk umpamakan jurnal-jurnal” tuturnya.

Salah satu ruangan yang tersedia rak buku di Rumah Baca Buku Sunda. (Foto: Muhamad Rendi Firmansyah).

Kurangnya Akses Bacaan Sunda

Berangkat dari keprihatinan terhadap akses bacaan berbahasa Sunda yang minim, Mamat lalu membuka koleksinya untuk publik. Ia menyebut tempat itu sebagai rumah baca. Bukan toko atau taman bacaan, karena dari awal konsepnya adalah berbagi, bukan menjual atau menyewakan buku.

Berbeda dengan taman bacaan yang umumnya mengenakan biaya sewa atau dibatasi oleh peraturan formal, Rumah Baca Buku Sunda terbuka untuk siapa saja. Mahasiswa menjadi pengunjung terbanyak, dan datang dari berbagai kampus seperti UPI, UNPAD, UIN, hingga Telkom University.

“Banyak mahasiswa datang ke sini, biasanya untuk cari referensi tugas bahasa Sunda. Bahkan sering dijadikan tempat diskusi” ujar Mamat.

Namun, setelah mengalami buku yang dipinjam tidak dikembalikan, Mamat mulai lebih berhati-hati. Orang-orang yang pernah meminjam buku dan tidak mengembalikannya, tidak akan diizinkan lagi untuk meminjam buku di Rumah Baca Buku Sunda

Akhirnya mah yang selanjutnya yang jadi korban, teu di béré deui (tidak diberi pinjam lagi). Setelah Anda membuat cedera, Anda sudah membawa ini, geus selanjutnya mah moal diinjemkeun deui (tidak akan dipinjamkan lagi) kata Mamat.

Mamat Sasmita sedang diwawancara. (Tangkapan layar YouTube Abie Besman).

Pada akhirnya Mamat hanya meminjamkan bukunya kepada orang-orang tertentu, seperti mahasiswa yang benar-benar membutuhkan dan dipercaya. Hal ini dilakukan untuk menjaga koleksi supaya tetap terpelihara dan bisa terus diakses oleh banyak orang.

Digitalisasi Koleksi

Salah satu tantangan yang kini dihadapi adalah proses digitalisasi koleksi. Mamat menyadari bahwa buku fisik memiliki keterbatasan dalam hal distribusi dan ruang penyimpanan.

“Sebenernya mah buku sebanyak ini cukupnya di satu hard disk. Tapi tantanganna ngédit, ngabebenah, terus ngajadikeun PDF. Butuh waktu jeung tanaga,” jelasnya.

Di tengah arus digitalisasi yang terus melaju, keyakinan Mamat justru menjadi kekuatan terbesar Rumah Baca Buku Sunda. Siapa tahu, tempat sederhana ini suatu hari akan menjadi pusat rujukan literasi dan budaya Sunda yang tetap berdiri kokoh karena fondasi semangatnya tak pernah bergantung pada tren, melainkan pada cinta yang tulus terhadap ilmu dan warisan leluhur. Apalagi, Mamat bukan hanya menjaga warisan itu lewat buku-buku lama, bahkan juga aktif menulis khususnya genre berbahasa Sunda yang kerap beliau kirimkan ke surat kabar. Hal ini menandai kontribusinya yang terus hidup dalam dunia sastra Sunda.

Sejumlah Karya Mamat Sasmita. (Foto: Muhammad Rendi Firmansyah).

Karya-karyanya sebagian besar berupa cerpen, seperti Jampe Ngimpi dan Ma Inung Newak Cahaya. Salah satu karyanya dimuat ke dalam buku, Neng Maya jeung Carita Lianna, bahkan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Prof. C. W. Watson menjadi Miss Maya and Other Sundanese Stories. Buku tersebut kemudian diterbitkan ulang oleh Lontar Foundation dengan judul In the Small Hours of the Night yang niatnya untuk dipamerkan dalam ajang literasi internasional di Berlin.

Mamat Sasmita dan Rumah Baca Buku Sunda memang tidak terpisahkan. Tetapi bukan berarti orang-orang dilarang untuk memelihara Rumah Buku Sunda yang usianya sudah lebih dari dua dekade. Sebelum berpindah alamat, beberapa orang pegiat buku sempat mengadakan kegiatan rutinan di Rumah Baca Buku Sunda. Itu terjadi sebelum Covid-19 merebak. Mamat sendiri senang jika ada para penyuka buku ikut merawat buku koleksinya. Ini menandakan bahwa Rumah Buku Sunda terbuka bagi siapa pun.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Muhamad Rendi Firmansyah

Muhamad Rendi Firmansyah

Mahasiswa Sastra Inggris Unpad. Sedang menjadi reporter di hanyawacana.id.